Rempahan Rasa
Harapan
Yang Tidak Seharusnya Mudah Kupercaya
Kita pernah berjalan di jalan yang hanya kita berdua
yang tau. Masih kuingat saat itu kamu menggenggam tangan ku seakan saat itu
adalah hari terakhir di dunia. Kita masih mampu menguasai pandangan saat itu. Kita
masih memiliki semesta dan dia pun seakan mengerti apa yang kita rasakan saat
itu. Kamu memberi harapan yang tidak seharusnya mudah kupercaya saat itu.
Dan benar saja, setelah hari itu semua terasa aneh. Tatapan
mu tak lagi terlihat sama, tak ada lagi genggaman jemari yang biasanya menjadi
alasanku merekahkan senyuman. Terasa hanya hembusan harapan yang sudah mubazir
dan hanya suara asa yang sudah hampir using. Hanya sebuah bisikan semu yang
semakin semakin hilang kudengar.
Ya.. kamu pergi melangkah lebih jauh kedepan
sedangkan aku masih ingin berjalan perlahan denganmu menikmati lelahnya
perjalanan ini. Aku terlena sehingga tak kusadari kamu sudah hampir tak
terlihat lagi. Genggaman itu ternyata sudah bukan milikku lagi, kembang yang
indah itu sudah enggan menunjukkan kelopak indahnya. Semua layu dan gersang,
aku ingin secepatnya berlari kearahmu agar aku tak melihat bencana ini.
Ternyata semesta yang tadinya begitu merekah
tiba-tiba meneteskan kesedihan. Harapanku untuk bersamamu sirna. Kamu menggenggam
tangannya seerat yang pernah kita lewati. Aku luluh lantak sejadi-jadinya. Aku tidak
mampu membendung betapa derasnya kepedihan hari itu. Baru saja kemarin aku
melihat langit cerah dan hari ini badai datang bersama gertakan petir yang
menakutkan seakan ingin meyadarkan aku bahwa kamu bukan milikku lagi.
Kini, aku hanya berhenti sejenak dijalan ini dan
berteduh sebentar sembari berpikir berjalan terus tanpamu ataukah aku harus
mencari jalan lain agar tetap mampu berjalan walau kita tak sejalan lagi.
Bella 21/11/2017

Komentar
Posting Komentar